The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Tinea Kapitis

Tinea kapitis, atau dikenal juga sebagai kurap kepala, merupakan salah satu dari golongan penyakit kulit yang disebut sebagai dermatofitosis. Dermatofitosis sendiri adalah infeksi jamur dermatofita yang mencerna zat tanduk (keratin). Oleh karena itu, jamur dermatofita ini hidup di jaringan yang banyak mengandung zat tanduk, misalnya lapisan tanduk (stratum korneum) pada bagian terluar kulit, rambut, dan kuku. Tinea kapitis adalah dermatofitosis pada daerah kepala. Tinea kapitis banyak didapatkan pada orang yang dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan penutup kepala dan memiliki perawatan rambut yang buruk. Tinea kapitis juga banyak ditemukan pada pekerja dengan kepala yang selalu atau cenderung lembab, misalnya karena menggunakan helm atau topi.


Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya tinea kapitis adalah lingkungan yang lembab dan panas, imunodefisiensi, obesitas, dan riwayat diabetes melitus.


Gejala dan Tanda

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Biasanya pasien dermatofita memiliki riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis.


Penyebab

Sumber penularan jamur ini dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik), dan dari tanah (jamur geofilik).


Penanganan Nonfarmakologis

Kebersihan diri harus dijaga dan pemakaian handuk serta pakaian bersamaan harus dihindari.


Penanganan Farmakologis

Penanganan untuk tinea kapitis adalah:

· Untuk bercak berukuran terbatas, diberikan pengobatan oles, yaitu dengan antifungal topikal seperti krim klotrimazol, mikonazol, atau terbinafin yang diberikan hingga bercak hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

· Untuk bercak yang tersebar luas atau tidak merespon terapi oles, dilakukan pengobatan sistemik dengan:

a. Griseofulvin dengan dosis 0,5 – 1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10 – 25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti ketokonazol: 200 mg/hari; itrakonazol: 100 mg/hari atau terbinafin: 250 mg/hari. Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.


Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan, serta tidak menggunakan pakaian dan handuk bergantian dengan pasien yang mengalami infeksi dermatofita.


Prognosis

Pada pasien yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang baik, penyakit ini dapat sembuh dengan baik selama mendapatkan pengobatan yang tepat dan pasien mampu menjaga kebersihan diri. Namun pada pasien yang memiliki penurunan fungsi sistem pertahanan tubuh, kesembuhan penyakit ini akan lebih sulit tercapai.


Rekomendasi Pemeriksaan Lab

Pemeriksaan infeksi dermatofita dapat dilakukan dengan pemeriksaan lampu wood di mana area yang mengalami infeksi dermatofita akan berwarna kekuningan saat disinari lampu wood. Selain itu, dapat juga dilakukan kerikan pada lesi untuk mendapatkan sampel jamur yang dapat dilihat di bawah mikroskop dengan pewarnaan KOH, ataupun dilakukan kultur pada agar Saboraud.



Referensi

1. Seebacher C, Bouchara JP, Mignon B. Updates on the epidemiology of dermatophyte infections. Mycopathologia. 2008 Nov-Dec. 166(5-6):335-52.