The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Penyakit Radang Panggul

Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi dari bakteri Neisseria gonorrhoeae yang terjadi pada wanita.


Faktor Risiko

Usia muda, aktif berhubungan seksual, berhubungan seksual tanpa kondom, berganti-ganti pasangan, riwayat keguguran, riwayat kehamilan ektopik, riwayat pemasangan intrauterine device (IUD), sering melakukan cuci vagina (douching), dan memiliki riwayat infeksi menular seksual (IMS) sebelumnya merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit radang panggul.


Gejala dan Tanda

Pasien dengan penyakit radang panggul biasanya akan merasakan nyeri pada bagian panggul atau perut bawah, nyeri pada saat buang air kecil, nyeri pada saat berhubungan, keluar cairan berbau dari vagina, perdarahan pada saat/setelah berhubungan, perdarahan dari vagina di antara masa mensturasi, demam, mual, dan muntah.


Penyebab

Penyebab penyakit radang panggul adalah infeksi bakteri. Bakteri yang paling banyak menyebabkan penyakit radang panggul adalah bakteri genus Chlamydia atau Gonorrhea.


Penanganan Nonfarmakologis

Penyembuhan penyakit radang panggul dapat dibantu dengan tidak berhubungan seksual untuk sementara waktu.


Penanganan Farmakologis

Oleh karena disebabkan dari infeksi bakteri, obat yang digunakan untuk penyakit radang panggul adalah antibiotik seperti metronidazol, ofloksasin, doksisiklin, atau seftriakson, serta analgesik seperti ibuprofen atau parasetamol.


Pencegahan

Mencegah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan penyakit radang panggul dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan vagina, melakukan hubungan seksual dengan aman, dan tidak berganti-ganti pasangan.


Prognosis

Pada wanita yang sudah mengalami penyakit radang panggul, dapat terjadi kekambuhan dengan gejala serupa, kehamilan ektopik, atau infertilitas.


Rekomendasi Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan darah lengkap, kultur bakteri Gonorrhea, pemeriksaan hepatitis, VDRL, VCT, USG, CT scan, MRI, kuldosentesis, laparoskopi, dan biopsi.



Referensi

1. Wiesenfeld HC, Hillier SL, Meyn LA, Amortegui AJ, Sweet RL. Subclinical pelvic inflammatory disease and infertility. Obstet Gynecol. 2012 Jul. 120(1):37-43.

2. Workowski KA, Berman S. Sexually transmitted diseases treatment guidelines, 2010. MMWR Recomm Rep. 2010 Dec 17. 59:1-110.

3. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Management of acute pelvic inflammatory disease. London (UK): Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG).; 2008 Nov