top of page
Search

Penting! Kenali Virus Penyebab Cacar Monyet

Prixa.ai - 27 Mei 2022

Ditulis oleh Zalfa Imani Trijatna

Virus monkeypox atau cacar monyet adalah

Prixa, Jakarta - Walaupun situasi pandemi Covid-19 sudah membaik, baru-baru ini kita kembali digemparkan oleh masalah kesehatan baru yaitu cacar monyet. Lebih dari 100 orang kini telah terjangkit virus yang menyebabkan bintil bernanah di kulit.


Dilansir dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), virus cacar monyet atau monkeypox virus adalah sebuah virus yang menyebabkan penyakit cacar monyet yang langka. Virus cacar monyet termasuk ke dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.


Beberapa dari kita mungkin baru pertama kali mendengar istilah penyakit monkeypox. Akan tetapi, sebenarnya penyakit cacar monyet bukanlah penyakit baru. Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 ketika dua wabah penyakit mirip cacar air terjadi di koloni monyet yang dipelihara untuk sebuah penelitian. Karena pertama kali ditemukan pada monyet, penyakit ini kemudian dinamakan monkeypox. Akan tetapi, monkeypox baru ditemukan pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak saat itu, virus penyebab monkeypox menyebar ke negara-negara di benua Afrika lainnya, seperti Gabon, Liberia, Nigeria, Kamerun, dan sebagainya. Meski mayoritas kasus cacar monyet terjadi di benua Afrika, beberapa orang di luar benua ini juga mengalaminya, termasuk di AS, Singapura, dan Inggris akibat perjalanan internasional atau impor hewan.


Saat ini, WHO telah merilis pernyataan pada 20 Mei 2022 bahwa kasus cacar monyet telah dilaporkan di beberapa negara di luar Afrika, termasuk Kanada, AS, Inggris, Australia, dan beberapa negara Eropa, seperti Spanyol, Portugal, Swedia, Perancis, Belgia, Jerman, Italia, dan Swiss.


Tentunya hal ini menimbulkan kekhawatiran yang hebat bagi banyak orang. Akan tetapi, Maria Van Kerkhove, ahli epidemiologi penyakit menular dari AS dan pemimpin penyakit baru WHO, mengatakan bahwa penyebaran virus monkeypox merupakan situasi yang dapat dikendalikan mengingat penularan virus monkeypox yang terjadi dari kontak kulit ke kulit. Kepala Sekretariat Cacar yang merupakan bagian dari Program Darurat WHO, Rosamund Lewis, mengatakan bahwa mutasi virus ini cenderung rendah dan stabil, serta tidak ada bukti jika virus monkeypox telah bermutasi.


Gejala monkeypox


Dikutip dari WHO, cacar monyet merupakan penyakit yang umumnya sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 2 hingga 4 minggu. Kasus cacar monyet yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak. Akan tetapi, tingkat keparahan juga bergantung pada tingkat paparan virus, status kesehatan pasien, dan sifat komplikasi.


Menurut Dinas Kesehatan Nasional Britania Raya (NHS UK), penderita cacar monyet biasanya mulai mengalami gejala setelah masa inkubasi virus, yaitu antara 5 dan 21 hari. Berikut adalah gejala awal cacar monyet yang umumnya dialami oleh pasien:

  • Demam

  • Sakit kepala

  • Nyeri otot

  • Kelenjar getah bening membengkak (limfadenopati)

  • Menggigil

  • Kelelahan

  • Ruam (muncul 1 sampai 5 hari setelah gejala pertama) yang awalnya muncul sebagai bintik-bintik akan melepuh dan berisi cairan


Penanganan monkeypox


Dilansir dari Healthline, Hannah Newman, MPH, direktur epidemiologi di Lenox Hill Hospital, New York, AS, mengatakan bahwa tidak ada pengobatan atau penanganan khusus untuk cacar monyet. Biasanya penanganan penyakit ini berfokus pada gejala yang dialami pasien. Akan tetapi, obat antivirus dan imunoglobulin dapat digunakan secara efektif untuk melawan cacar.


Pencegahan monkeypox


Meskipun virus cacar monyet merupakan virus yang cenderung langka dan memiliki tingkat mutasi rendah, tidak ada salahnya jika kita melindungi diri agar terhindar dari virus dan penyakit ini. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah infeksi virus monkeypox menurut CDC.

  • Menghindari kontak dengan hewan yang sedang sakit atau ditemukan mati di daerah kasus cacar monyet terjadi

  • Menghindari kontak dengan bahan apapun yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit, seperti tempat tidur dan selimut

  • Mengisolasi pasien yang mungkin berisiko terinfeksi virus cacar monyet dari orang lain

  • Menjaga kebersihan tangan setelah kontak dengan hewan atau manusia dengan mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol (hand sanitizer)

  • Melindungi diri saat merawat pasien dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)

Selain itu, kita juga sebaiknya memastikan bahwa pernah mendapatkan vaksin cacar. Hal ini dikarenakan vaksin cacar memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam mencegah cacar monyet, yaitu 85 persen.


Ditinjau oleh dr. Vito Jonathan


Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit cacar monyet, kamu dapat konsultasi dengan dokter. Gunakan fitur telekonsultasi di Prixa untuk dapatkan informasi cepat dan mudah! Yuk tunggu apa lagi?



Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. About Monkeypox


Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Monkeypox Prevention


WIO News. Diakses pada 2022. Monkeypox outbreaks: A list of countries that recorded cases recently. Will it be like COVID-19 pandemic?


VOA News. Diakses pada 2022. WHO Says No Evidence Monkeypox Virus Has Mutated


NHS UK. Diakses pada 2022. Monkeypox


Healthline. Diakses pada 2022. Monkeypox Cases on the Rise Worldwide: What to Know

 
Periksa gejala tanpa kendala di Prixa sekarang

1 view0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page