The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Nyeri Kepala Klaster (Cluster-Type Headache)

Nyeri kepala klaster (cluster-type headache) merupakan nyeri kepala yang dirasakan pada area sekitar mata dan pelipis pada periode waktu tertentu. Nyeri dirasakan menetap, tidak berdenyut, serta memiliki intensitas berat.


Faktor Risiko

Faktor risiko dari nyeri kepala klaster mencakup jenis kelamin pria, usia 20-50 tahun, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, kebiasaan merokok, stres psikologis, dan cuaca panas. Faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini adalah riwayat nyeri kepala klaster dalam keluarga serta riwayat rinitis alergi.


Gejala dan Tanda

Nyeri kepala klaster ditandai dengan munculnya nyeri kepala secara tiba-tiba dengan intensitas berat (seperti tertusuk) pada satu sisi kepala, terutama area sekitar mata, wajah, dan pelipis. Umumnya, keluhan terjadi pada malam hari sehingga menyebabkan Anda mengalami kesulitan tidur. Selain itu, biasanya nyeri kepala juga disertai gejala lainnya, seperti mata berair, hidung tersumbat, peningkatan produksi keringat pada dahi dan wajah, bengkak pada kelopak mata (satu sisi), serta rasa lelah. Durasi setiap serangan nyeri kepala berlangsung sekitar 15 menit hingga 3 jam dengan jumlah serangan 1-8 kali dalam sehari. Keluhan umumnya terjadi dalam waktu 7 hari hingga 1 tahun dan di antaranya terdapat periode bebas nyeri selama minimal 3 bulan.


Penyebab

Penyebab dari nyeri kepala klaster belum diketahui secara pasti. Studi menyatakan bahwa nyeri kepala ini kemungkinan terjadi karena gangguan jam biologis yang diatur oleh hipotalamus. Gangguan pada hipotalamus akan memberikan rangsangan pada saraf trigeminus yang selanjutnya menimbulkan sensasi nyeri pada area wajah dan sekitar mata. Selain itu, rangsangan juga dapat mengaktivasi sistem saraf tak sadar sehingga menimbulkan gejala lain, seperti mata berair, hidung tersumbat, dan peningkatan produksi keringat pada wajah.


Penanganan Nonfarmakologis

Terapi utama dari nyeri kepala klaster adalah pemberian oksigen murni melalui metode hirup. Upaya lainnya yang dapat membantu penyembuhan adalah menjaga waktu tidur secara teratur, tidak mengkonsumsi alkohol, menjaga pola hidup sehat, serta menghindari paparan sinar terlalu terang atau suara terlalu bising.


Penanganan Farmakologis

Konsumsi obat-obatan sebagai terapi nyeri kepala klaster harus dilakukan berdasarkan pertimbangan dokter. Obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi serangan mencakup golongan triptan (seperti Sumatriptan), inhalasi anestesi lokal (seperti Lidokain), dan dihidroergotamin. Sementara itu, obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk mencegah serangan meliputi golongan penghambat kanal kalsium (seperti Verapamil), kortikosteroid (seperti Prednisolon), dan golongan litium.


Pencegahan

Upaya pencegahan terhadap nyeri kepala klaster mencakup menjaga pola tidur secara teratur, menghindari konsumsi alkohol, menghindari zat dengan aroma menyengat, tidak berolahraga saat cuaca panas, dan mengkonsumsi obat pencegah serangan nyeri (sesuai instruksi dokter).


Prognosis

Jika Anda pernah mengalami nyeri kepala klaster, kekambuhan dapat terjadi bila Anda tidak melakukan upaya pencegahan secara tepat. Pasien dengan nyeri kepala klaster juga berpotensi mengalami nyeri kepala klaster berkepanjangan (kronik) sehingga disarankan agar pasien tersebut kontrol rutin ke dokter.


Rekomendasi Pemeriksaan Lab

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan atas pertimbangan dokter untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain pada pasien dengan keluhan menyerupai nyeri kepala klaster, yaitu CT-scan kepala, MRI kepala, pengambilan cairan otak (pungsi lumbal), serta pemeriksaan darah untuk mengetahui nilai parameter peradangan (inflamasi) dan kadar ion (elektrolit) dalam darah.


Referensi

1. Hainer BL, Metheson EM. Approach to acute headache in adults. Am Fam Physician. 2013; 87(10): 682-7.

2. Aninditha T, Rasyid A. Nyeri kepala. In: Aninditha T, Wiratman W, editors. Buku Ajar Neurologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017