Limfadenitis

Limfadenitis merupakan suatu reaksi peradangan yang terjadi pada kelenjar getah bening. Peradangan ini dapat terjadi hanya pada satu kelenjar getah bening, namun dapat pula terjadi pada beberapa kelenjar getah bening secara bersamaan. Peradangan ini diakibatkan adanya infeksi bakteri, virus, protozoa, riketsia, ataupun jamur. Umumnya infeksi tersebut menyebar ke kelenjar getah bening dari infeksi di kulit, telinga, hidung, ataupun mata.


Faktor Risiko

Riwayat penyakit infeksi, seperti infeksi tonsil atau infeksi gigi/gusi yang disebabkan oleh bakteri, serta kontak dengan orang yang mengalami infeksi saluran napas atas atau infeksi tuberkulosis merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan limfadenitis. Riwayat perjalanan ke daerah dengan penyakit tertentu seperti daerah Afrika juga dapat menjadi penyebab limfadenitis akibat penyakit tripanosomiasis.


Gejala dan Tanda

Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan gejala utama yang dapat dikenali dari limfadenitis. Selain itu, dapat pula muncul gejala lain seperti demam, denyut nadi terasa cepat, keringat berlebihan, nafsu makan menurun, hingga lemas. Apabila limfadenitis disebabkan oleh infeksi saluran napas atas, gejala nyeri tenggorok dan batuk juga umum terjadi. Sementara pada limfadenitis akibat penyakit kolagen atau penyakit serum (serum sickness) dapat terjadi nyeri sendi.


Penyebab

Penyebab paling umum dari limfadenitis adalah infeksi oleh bakteri Streptococcus sp., Staphylococcus sp., dan Mycobacterium tuberculosis. Selain itu infeksi kelenjar getah bening juga dapat diakibatkan oleh virus, protozoa, riketsia, ataupun jamur.


Penanganan Nonfarmakologis

Penanganan utama dari radang kelenjar getah bening adalah menangani penyebab infeksinya. Infeksi yang disebabkan oleh virus dapat sembuh sendiri dan tidak membutuhkan pengobatan apapun. Untuk mengurangi rasa sakit, bagian yang terkena dapat dikompres hangat.


Penanganan Farmakologis

Pada limfadenitis yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab terjadinya limfadenitis. Umumnya setelah infeksi diobati, kelenjar akan mengecil secara perlahan dan rasa sakit menghilang. Namun terkadang kelenjar yang membesar dapat tetap teraba keras, namun rasa nyeri umumnya tetap berkurang.


Pencegahan

Limfadenitis dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan badan secara umum. Keluarga juga sebaiknya ikut menjaga kesehatan dan kebersihan untuk mencegah terjadinya penularan.


Prognosis

Limfadenitis pada umumnya dapat sembuh dengan baik ketika penyebabnya ditangani dengan baik.


Rekomendasi Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis dari limfadenitis dan penyebab infeksinya, dapat dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, C-reactive protein (CRP), uji fungsi hati (SGOT/SGPT), uji serologi virus Epstein-Barr (EBV), pewarnaan gram, pemeriksaan tuberkulosis, kultur gram, ultrasonografi kelenjar getah bening, hingga biopsi.



Referensi

1. Boldt DH. Lymphadenopathy and Splenomegaly, Internal Medicine, Stein. 5th Ed. 1998. Chapter 81.

2. Pasternack MS, Marton NS. Lymphadenitis and Lymphangitis, Mandell, Douglas, and Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases. 7th ed. 2010. Chapter 92.

3. Carvalho AC, Codecasa L, Pinsi G, Ferrarese M, Fornabaio C, Bergamaschi V. Differential diagnosis of cervical mycobacterial lymphadenitis in children. Pediatr Infect Dis J. 2010 Jul. 29(7):629-33.

4. Friedmann AM. Evaluation and management of lymphadenopathy in children. Pediatr Rev. 2008 Feb. 29(2):53-60.

5. Peters TR, Edwards KM. Cervical lymphadenopathy and adenitis. Pediatr Rev. 2000 Dec. 21(12):399-405.

6. Sejben I, Rácz A, Svébis M, Patyi M, Cserni G. Petroleum jelly-induced penile paraffinoma with inguinal lymphadenitis mimicking incarcerated inguinal hernia. Can Urol Assoc J. 2012 Aug. 6(4):E137-9.

7. Raoot A, Dev G. Assessment of Status of rpoB Gene in FNAC Samples of Tuberculous Lymphadenitis by Real-Time PCR. Tuberc Res Treat. 2012. 2012:834836.

8. Leung AK, Davies HD. Cervical lymphadenitis: etiology, diagnosis, and management. Curr Infect Dis Rep. 2009 May. 11(3):183-9.

9. Wang L, Wu W, Teng J, Zhong R, Han B, Sun J. Sonographic Features of Endobronchial Ultrasound in Differentiation of Benign Lymph Nodes. Ultrasound Med Biol. 2016 Sep 7.

10. Geake J, Hammerschlag G, Nguyen P, Wallbridge P, Jenkin GA, Korman TM, et al. Utility of EBUS-TBNA for diagnosis of mediastinal tuberculous lymphadenitis: a multicentre Australian experience. J Thorac Dis. 2015 Mar. 7(3):439-48.

11. Dulin MF, Kennard TP, Leach L, Williams R. Management of cervical lymphadenitis in children. Am Fam Physician. 2008 Nov 1. 78(9):1097-8.

12. Haimi-Cohen Y, Markus-Eidlitz T, Amir J, Zeharia A. Long-term Follow-up of Observation-Only Management of Nontuberculous Mycobacterial Lymphadenitis. Clin Pediatr (Phila). 2016 Oct. 55 (12):1160-4.

13. Guss J, Kazahaya K. Antibiotic-resistant Staphylococcus aureus in community-acquired pediatric neck abscesses. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2007 Jun. 71(6):943-8.

14. Loizos A, Soteriades ES, Pieridou D, Koliou MG. Lymphadenitis by non-tuberculous mycobacteria in children. Pediatr Int. 2018 Dec. 60 (12):1062-1067.

15. Willemse SH, Oomens MAEM, De Lange J, Karssemakers LHE. Diagnosing nontuberculous mycobacterial cervicofacial lymphadenitis in children: A systematic review. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2018 Sep. 112:48-54.

The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai