The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Kusta

Kusta, dikenal juga sebagai lepra atau penyakit Hansen, adalah infeksi berkepanjangan yang menyerang kulit, sistem saraf, selaput lendir, sistem pernapasan atas, dan mata, yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae. Seiring waktu, infeksi pada kusta akan semakin memburuk.

Kusta memiliki dua bentuk umum: tuberkuloid dan lepromatosa. Kedua bentuk tersebut menyebabkan luka pada kulit. Meski demikian, infeksi lepromatosa biasanya lebih berat dan dapat menyebabkan benjolan-benjolan yang besar. Secara mikrobiologi, kusta dibagi menjadi pausibasiler dan multibasiler.


Faktor Risiko

Sampai saat ini, mekanisme penularan kusta yang diketahui paling memungkinkan adalah melalui kontak fisik dengan orang dengan kusta, atau melalui saluran pernapasan. Oleh karena itu, berada pada pemukiman padat penduduk dengan jumlah kasus kusta yang tinggi dan berhubungan langsung dalam waktu lama dengan orang dengan kusta dapat menjadi faktor risiko terkena kusta. Meski demikian, sebagian besar individu yang berkontak dengan kuman kusta tidak terkena kusta. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh individu tersebut cukup kuat untuk melawan kuman kusta. Maka dari itu, individu dengan kelainan sistem kekebalan tubuh dapat lebih rentan untuk terkena kusta.


Gejala

Kusta dapat bermanifestasi menjadi gejala yang beragam. Meski demikian, pada daerah dengan kejadian kusta yang banyak, seorang individu harus dicurigai mengalami kusta bila ditemukan:

· Perlukaan atau penebalan pada kulit yang lebih pucat dari warna kulit asli

· Perlukaan yang mati rasa terhadap suhu, tekanan, maupun nyeri

· Perlukaan yang tidak sembuh setelah beberapa minggu hingga bulan

· Kelemahan otot

· Baal atau kebas pada tangan, lengan, kaki, maupun tungkai bawah.


Penanganan

Bila Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan kerokan kulit dapat dilakukan untuk memastikan adanya kuman kusta. Meski demikian, hasil yang negatif tidak menyingkirkan diagnosis kusta. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan.

Kusta dapat disembuhkan dan penanganan dini mencegah berbagai macam kecacatan. Hal ini dilakukan melalui pemberian kombinasi obat.

· Untuk kusta pausibasiler, diberikan dapsone + rifampisin atau rifampisin + klofazimin.

· Untuk kusta multibasiler, diberikan dapsone + rifampisin + klofazimin.

· Untuk kusta pausibasiler dengan perlukaan tunggal, diberikan rifampisin + ofloksasin + monosiklin.

Pengobatan rutin dilakukan selama 6 bulan hingga 1-2 tahun.

Dapat diberikan suplementasi berupa vitamin B1, B6, B12, dan obat cacing.

Untuk mendukung pengobatan, individu dengan kusta dapat menjaga kebersihan tubuh, rajin mengecek kaki dan tangan akan adanya perlukaan terutama bila sudah mulai terasa kebas, merawat luka kusta dengan baik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga etika batuk/bersin agar tidak menularkan kepada orang lain.


Pencegahan

Menjaga kebersihan tubuh terutama dengan mencuci tangan dapat mengurangi kemungkinan penularan kusta. Individu dengan kusta yang mengonsumsi kombinasi obat dan menjaga kebersihan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menularkan kusta.


Prognosis

Prognosis kusta baik bila penanganan dilakukan sedini mungkin dan dipatuhi dengan disiplin. Keterlambatan dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan dapat menyebabkan komplikasi yang buruk dan permanen. Selain itu, ketidakpatuhan mengonsumsi obat juga dapat menyebabkan kuman kusta menjadi resisten dan tidak merespon obat yang diberikan.


Daftar Rujukan

1. Renault CA. Ernst JD. Mycobacterium leprae (leprosy). In: Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ, eds. Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases, Updated Edition. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 252.

2. Walker SL, Withington SG, Lockwood DNJ. Leprosy. In: Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, eds. Manson's Tropical Diseases. 23rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2014:chap 41.

3. World Health Organization. WHO Expert Committee on leprosy: eighth report. Geneva: World Health Organization; 2012.