Search

Kamu Sering Mendengkur Keras saat Tidur? Hati-Hati Apnea Tidur!

Prixa.ai - 01 Juni 2022

Ditulis oleh Zalfa Imani Trijatna

Mendengkur keras saat tidur, hati hati apnea tidur

Prixa, Jakarta - Tidur adalah salah satu bagian terpenting dalam keseharian manusia. Mendapatkan tidur yang cukup tanpa ada masalah tentunya merupakan suatu yang ideal, terlebih kalau kamu memiliki kesibukan di pagi hari. Akan tetapi, beberapa gangguan tidur kerap terjadi kepada sebagian orang. Salah satunya adalah apnea tidur.


Dilansir dari WebMD, apnea tidur atau sleep apnea adalah gangguan tidur serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang berhenti dan timbul kembali timbul saat tidur. Apnea tidur tidak dapat disepelekan karena kondisi ini mencegah penderitanya mendapatkan oksigen yang dibutuhkan tubuh.


Apnea tidur dapat dibedakan menjadi dua tipe:


Apnea tidur obstruktif

Apnea tidur obstruktif adalah tipe apnea tidur yang paling umum. Dikutip dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), Apnea tidur tipe ini terjadi ketika saluran udara bagian atas seseorang tersumbat berkali-kali ketika tidur. Saat episode apnea tidur terjadi, diafragma dan otot dada bekerja lebih keras dari biasanya, sehingga napas akan terengah-engah. Kondisi ini juga dapat menyebabkan aliran udara terhenti sepenuhnya. Risiko apnea tidur obstruktif meningkat ketika seseorang mengalami obesitas, perubahan kadar hormon, dan memiliki amandel yang besar.


Apnea tidur sentral

Apnea tidur sentral terjadi ketika otak tidak mengirimkan sinyal yang dibutuhkan untuk bernapas. Apnea tidur tipe ini dipengaruhi oleh cara otak mengontrol saluran napas dan otot dada. Seseorang memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki apnea tidur sentral ketika memiliki gangguan jantuk, menggunakan obat nyeri narkotik, dan pernah mengalami stroke.


Gejala apnea tidur

Salah satu gejala utama apnea tidur adalah dengkuran yang keras ketika tidur. Dilansir dari Mayo Clinic, hal ini terjadi karena ketika mengalami apnea tidur, saluran udara yang terus menyempit akan mengakibatkan aliran udara yang semakin kuat. Kondisi ini meningkatkan getaran jaringan yang menyebabkan dengkuran seseorang semakin keras. Jalan napas yang tersumbat kemudian menyebabkan dengkuran.


Suara dengkuran yang kuat memang menjadi hal utama yang mengindikasi diagnosis apnea tidur. Akan tetapi, beberapa orang mengalami gejala lainnya. Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin kamu alami jika memiliki apnea tidur:

  • Merasa lelah dan mengantuk di siang hari

  • Merasa gelisah ketika tidur dan terbangun di malam hari

  • Bangun dengan mulut kering atau tenggorokan yang sakit

  • Bangun tiba-tiba setelah terengah-engah

  • Merasa sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan mudah tersinggung akibat kualitas tidur yang tidak baik

  • Mengalami depresi atau kecemasan

  • Berkeringat di malam hari

  • Sakit kepala

Penanganan apnea tidur

Apnea tidur merupakan sebuah kondisi yang tidak dapat diremehkan, mengingat risiko yang mungkin dialami jika tidak ditangani dengan tepat. Menurut Cleveland Clinic, apnea tidur dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, seperti hipertensi, stroke, aritmia, kardiomiopati (pembesaran jaringan otot jantung), gagal jantung, serangan jantung, obesitas, dan diabetes. Oleh sebab itu, penanganan profesional sangat dibutuhkan oleh penderita apnea tidur.


Dikutip dari Mayo Clinic, pada kasus apnea tidur yang tergolong ringan, dokter akan merekomendasikan perubahan gaya hidup, seperti menurunkan berat badan dan berhenti merokok. Akan tetapi, jika perubahan gaya hidup belum berhasil memperbaiki gejala atau pada kasus apnea tidur yang lebih parah, dokter akan menawarkan beberapa pilihan perawatan lain, seperti terapi atau bahkan operasi jika perubahan gaya hidup dan terapi tidak memiliki efek signifikan bagi pasien apnea tidur.


Kapan harus ke dokter?

Jika kamu mengalami gejala apnea tidur, sebaiknya kamu langsung menghubungi dokter. Kamu dapat konsultasi gejala awalmu dengan dokter umum yang kemudian akan memberi rujukan untuk ke dokter spesialis tidur untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan apnea tidur yang kamu alami.


Untuk mendapat diagnosis yang tepat, dokter biasanya akan melihat riwayat kesehatan pasien, seperti kondisi medis, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, dan riwayat apnea tidur atau gangguan tidur lainnya yang pernah dialami oleh anggota keluarga. Kemudian pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk mencari tanda-tanda kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko apnea tidur, termasuk obesitas, penyempitan saluran udara bagian atas, amandel yang besar, atau ukuran lingkar leher. Dokter juga mungkin melihat ukuran dan struktur rahang dan ukuran dan posisi lidah pasien. Selain itu, dokter juga mungkin merujuk pasien untuk mengunjungi spesial tidur untuk melakukan studi tidur di fasilitas khusus.


Ditinjau oleh dr. Vito Jonathan


Jika kamu mengalami gejala dan tanda apnea tidur atau gangguan tidur lainnya, jangan ragu untuk konsultasi dengan ahlinya. Kamu dapat memulai konsultasi dengan dokter umum untuk pemeriksaan gejala awal. Gunakan fitur telekonsultasi di Prixa untuk konsultasi cepat dan mudah hanya dengan klik tombol di bawah ini! Yuk tunggu apa lagi?


Referensi:

WebMD. Diakses pada 2022. Sleep Apnea


Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Sleep Apnea


NIH. Diakses pada 2022. Sleep Apnea and Women


Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Sleep Apnea

 
Galau karena penyakit? Dokter prixa siap bantu


0 views0 comments

Recent Posts

See All