Insomnia

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, sering terbangun saat tidur, dan sulit kembali tidur setelah terbangun atau merasa tidak cukup tidur meskipun terdapat cukup waktu untuk melakukannya.


Faktor Risiko

Perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami insomnia karena adanya perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi, dan perubahan hormon setelah menopause. Selain jenis kelamin, faktor risiko lainnya antara lain usia di atas 60 tahun dan riwayat gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Selain itu, jam kerja tertentu dan perjalanan jarak jauh (jet lag) dapat menyebabkan insomnia.


Gejala dan Tanda

Gejala insomnia berupa kesulitan memulai tidur di malam hari, sering terbangun di tengah tidur, bangun tidur dengan tubuh yang lelah, dan mengantuk dan kelelahan di siang hari. Selain itu, penderita insomnia seringkali mudah marah, mengalami depresi atau cemas/gugup, sulit fokus dalam kegiatan, merasakan nyeri kepala, serta sensasi tertekan di perut dan usus. Penderita insomnia biasanya memiliki kekhawatiran tentang tidur.


Penyebab

Penyebab utama dari insomnia adalah stres, kecemasan, kebiasaan tidur yang buruk, serta konsumsi kafein dan alkohol. Penggunaan beberapa jenis obat seperti antidepresan dan beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan gangguan tidur.


Penanganan Nonfarmakologis

Penanganan untuk insomnia antara lain terapi perilaku kognitif, menerapkan sleep hygiene, dan manajemen stres.


Penanganan Farmakologis

Di samping penanganan nonfarmakologis, pasien dengan insomnia juga dapat diberi obat untuk membantu tidur sesuai dengan anjuran tenaga medis ahli.


Pencegahan

Olahraga rutin, kebiasaan tidur yang baik, dan menghindari konsumsi kafein dan alkohol dapat mencegah insomnia.


Prognosis

Prognosis pada umumnya baik apabila tidak didasari oleh penyakit tertentu. Meski demikian, pasien dengan insomnia yang sudah teratasi sering mengalami kekambuhan di kemudian hari.


Rekomendasi Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan lanjutan untuk mendiagnosis insomnia antara lain polisomnografi, multiple sleep latency testing (MSLT), dan actigraphy. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan lain untuk menyingkirkan kecurigaan akan adanya penyakit yang mendasari terjadinya insomnia sesuai dengan indikasi, antara lain analisa gas darah, pemeriksaan gen PRNP, positron-emission tomography (PET), MRI kepala, dan CT scan kepala.


Referensi

1. Schutte-Rodin S, Broch L, Buysse D, Dorsey C, Sateia M. Clinical guideline for the evaluation and management of chronic insomnia in adults. J Clin Sleep Med. 2008 Oct 15. 4(5):487-504

2. Sateia MJ, Buysse DJ, Krystal AD, Neubauer DN, Heald JL. Clinical Practice Guideline for the Pharmacologic Treatment of Chronic Insomnia in Adults: An American Academy of Sleep Medicine Clinical Practice Guideline. J Clin Sleep Med. 2017 Feb 15. 13 (2):307-349.

The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai