top of page
Search

Hustle Culture: Fenomena Budaya Kerja Masa Kini dan Tips untuk Menghadapinya

Prixa.ai - 11 Maret 2022

Ditulis oleh Zalfa Imani Trijatna

Hustle Culture dan tips untuk menghadapinya

Prixa, Jakarta - Istilah Hustle Culture belakangan ini sudah semakin sering didengar, baik di media massa, media sosial, maupun percakapan sehari-hari. Banyak dari kita mungkin sudah tahu apa yang dimaksud dengan hustle culture, bahkan ada yang sudah berada di dalamnya. Apa sih yang dimaksud dengan hustle culture yang sering diomongin anak jaman sekarang ini? Jangan sampai kamu salah tangkap ya. Yuk simak artikel berikut ini lebih lanjut dan dapatkan tips untuk menghadapinya!


Dikutip dari Headversity, hustle culture atau budaya gila kerja dapat dipahami sebagai budaya yang mendorong seseorang untuk terus bekerja keras dan memotivasi dirinya untuk melewati batas kemampuan untuk mencapai tujuan tertentu.


Seseorang yang mengikuti budaya hustle culture dikenal sebagai hustler. Para hustler biasanya menganggap bahwa karir adalah hal paling utama dalam hidup mereka. Mereka percaya bahwa hal yang mereka lakukan tidak akan cukup untuk mencapai kesuksesan dalam pekerjaan. Akibatnya, mereka akan bekerja tanpa henti, kapan pun dan di mana pun, untuk mencapai keberhasilan berikutnya.


Budaya hustle culture dapat disebabkan oleh lingkungan pekerjaan serba cepat yang menghasilkan jam kerja yang panjang. Selain itu, banyak lingkungan kerja saat ini memberi penghargaan bagi pekerjanya yang bekerja berlebihan, biasanya dengan bentuk promosi atau kenaikan gaji. Hal ini mendorong para pekerja untuk bekerja lebih keras lagi (overwork) untuk mendapat penghargaan tersebut dan menjadi “karyawan ideal.”


Erin Reid, profesor di Sekolah Bisnis DeGroote di McMaster University, Ontario, Kanada, mendefinisikan “karyawan ideal” ini sebagai seorang pekerja yang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya tanpa mengutamakan kepentingan dan tanggung jawab pribadi.


Konstruksi sosial juga memiliki peran yang penting dalam terbentuknya hustle culture. Jabatan dan kondisi finansial seseorang telah menjadi indikator kesuksesan seseorang. Semakin tinggi jabatan dan semakin banyak uang yang dimiliki, secara langsung hidupnya lebih mapan. Hal inilah yang memotivasi para hustlers untuk menjalani budaya kerja ini.


Banyak di antara mereka melakukan hustle culture dengan motivasi untuk meningkatkan taraf hidup. Meski tujuannya baik, hal ini tidak selamanya baik. Hustle Culture malah memaksa seseorang untuk bekerja secara berlebihan hanya untuk mendapat validasi dari lingkungan sekitar.


Ciri-Ciri Hustle Culture

Fenomena hustle culture semakin sering dibicarakan karena semakin banyak orang yang terjebak di dalamnya, terutama anak muda. Ada beberapa hal yang menandakan bahwa seseorang mengalami hustle culture. Berikut 3 ciri-ciri hustle culture yang perlu kamu perhatikan.


Selalu memikirkan pekerjaan

Salah satu tanda utama hustle culture adalah ketika seseorang selalu memikirkan pekerjaannya, bahkan saat hari libur dan akhir pekan Pikiran mereka akan sepenuhnya terpusat pada pekerjaan yang harus diselesaikan. Akibatnya, mereka tidak memiliki waktu untuk diri sendiri, seperti bersantai dan melepas penat. Bahkan, meluangkan waktu untuk beristirahat atau melakukan aktivitas lain di luar pekerjaan tidak terlintas di pikiran mereka.


Menetapkan standar yang terlalu tinggi pada diri sendiri

Memiliki standar yang tinggi bagi diri sendiri memang dapat memotivasi diri untuk mendapat hasil terbaik. Akan tetapi, menetapkan standar yang terlalu tinggi dapat membuat seseorang terjebak dalam hustle culture.


Mereka jadi selalu terpacu untuk menjadi sangat produktif dan memiliki hasil terbaik. Akibatnya, mereka akan menjadi sangat takut jika mereka gagal dan tidak menjadi yang terbaik. Untuk menghindari kegagalan tersebut, mereka akan rela untuk bekerja semaksimal mungkin.


Merasa bersalah ketika beristirahat

Melihat orang lain yang sedang bekerja keras akan membuat para hustlers merasa bersalah ketika mereka beristirahat. Mereka mengharuskan dirinya untuk bekerja tanpa henti ketika tubuh dan pikiran sesungguhnya sedang membutuhkan waktu istirahat.


Dengan kata lain, mereka merasa bahwa produktivitas merupakan sebuah kompetisi yang mengharuskan mereka untuk terus mengutamakan pekerjaan, bahkan di atas istirahat. Istirahat akan membuat mereka khawatir bahwa orang lain akan mendapat pencapaian yang lebih dari mereka.


Dampak hustle culture

Meski terkadang memiliki tujuan yang positif, budaya kerja terlalu keras akan memiliki efek negatif bagi yang menjalaninya. Ketiga dampak hustle culture di bawah ini adalah tiga dampak yang paling sering terjadi pada para hustler.


Tidak memiliki work-life balance

Hustle Culture mendorong seseorang untuk memfokuskan kehidupannya pada pekerjaan. Akibatnya, mereka tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.


Tidak adanya work-life balance dapat menyebabkan gangguan kesehatan seseorang. Mereka yang menjalani hustle culture cenderung memiliki masalah kurang tidur yang dapat mengakibatkan kelelahan.


Dilansir oleh Medical News Today, dampak ketidakseimbangan pekerjaan dan kehidupan bagi kesehatan hanya akan muncul di masa mendatang. Beberapa penelitian menunjukan bahwa jam kerja yang terlalu panjang dapat menyebabkan permasalahan serius pada kesehatan jantung.


Burn-out Syndrome

Salah satu dampak utama hustle culture adalah burn-out syndrome atau sindrom burn-out. Menurut WHO, burn-out adalah sindrom yang diakibatkan oleh stres kronik di tempat kerja yang tidak terkendali.


Mengutip dari Headversity, hustle culture memaksa pekerja untuk memiliki pola pikir ‘go hard or go home’ yang menempatkan tubuh dalam kondisi fight or flight. Akibatnya, seseorang yang bekerja terlalu keras akan mengalami stres terus-menerus. Mereka akan melepaskan hormon stres yang disebut dengan kortisol dengan jumlah lebih tinggi untuk periode yang lebih lama. Kadar kortisol yang meningkat ini perlu dinormalkan dengan istirahat.


Akan tetapi, seperti yang telah diketahui sebelumnya, tidak mendapatkan istirahat yang cukup menjadi salah satu masalah yang terjadi pada para hustler. Ketika hustle culture tidak memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat, burn-out menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari.


Burn-out dan stres berkelanjutan ini dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik seseorang. Peningkatan kadar kortisol yang berkepanjangan dapat mengakibatkan depresi, penyakit jantung, gangguan memori, dan penyakit merugikan lainnya.


Penurunan Produktivitas dan Kualitas Pekerjaan

Meski salah satu tujuan hustle culture adalah untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan, penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat stres yang diakibatkan oleh hustle culture malah menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas profesional. Hal ini dikarenakan pekerjaan yang berkualitas membutuhkan pekerja untuk berada dalam kondisi optimal. Mereka harus memiliki kepuasan pribadi daripada hanya meningkatkan beban kerja.


Dilansir oleh Mayo Clinic, data telah menunjukkan bahwa kondisi kesehatan dan kesejahteraan seseorang sangat mempengaruhi produktivitas. Oleh sebab itu, seseorang yang memiliki tingkat stres rendah dapat mengalami peningkatan produktivitas. Dengan kata lain, hustle culture sebenarnya merupakan sebuah paradoks yang sebenarnya menurunkan produktivitas seseorang akibat stres berlebih.


Tips menghadapi hustle culture

Melihat orang lain dan lingkungan pekerjaan yang terlihat selalu sibuk memang terkadang dapat membuat khawatir dan takut tertinggal. Budaya hustle yang sekarang sudah semakin melekat di lingkungan pekerjaan membuat kamu semakin sulit untuk menghindari diri dari hustle culture. Meski demikian, ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi dampak dari hustle culture.


Prioritaskan Kesehatan Fisik dan Mental

Salah satu konsekuensi paling berbahaya yang disebabkan oleh hustle culture adalah penurunan kondisi fisik dan mental seseorang. Dikutip Mayo Clinic, stres yang dialami oleh mereka yang mengikuti hustle culture dapat melemahkan imunitas tubuh.


Ketika mengalami ketidakseimbangan pekerjaan dan kehidupan, sangat penting bagi kamu untuk mengutamakan kesehatan fisik dan mental. Hal ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bernutrisi, berolahraga secara teratur, dan tidur yang cukup. Selain itu, menghabiskan waktu bersama orang yang kamu percaya seperti keluarga dan teman, serta berbicara dengan seorang konselor atau profesional juga dapat kamu lakukan untuk mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.


Beri penghargaan bagi diri sendiri

Fenomena hustle culture percaya bahwa kerja keras akan terbayar suatu hari. Berpegangan pada kutipan tersebut dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk bekerja terlalu keras sampai lupa untuk memberi penghargaan bagi dirinya.


Penghargaan ini tidak harus dalam bentuk besar. Hal-hal sederhana yang dapat memberi kebahagiaan bagi kamu juga dapat membantu untuk mengurangi tingkat stres dan menghindari burn-out. Kamu dapat melakukan hal-hal yang kamu senangi, menjalani hobi, atau sekadar bersantai di rumah.


Menentukan tujuan yang tepat

Untuk menghindari dampak hustle culture, kamu dapat meluangkan waktu sejenak untuk menata kembali tujuan kamu dalam pekerjaan. Menentukan tujuan yang sesuai dengan kapasitas kamu dapat mengurangi stres berlebih yang diakibatkan oleh bekerja terlalu keras.


Tetapkan batasan yang jelas

Psikolog klinis Nicole Cammack, Ph.D menjelaskan bahwa menetapkan batasan yang jelas atau clear boundaries dengan rekan kerja dapat membantu kamu memiliki work-life balance. Menurutnya, jika merasa cukup aman untuk melakukannya, kamu dapat menjelaskan kapan kamu bersedia untuk dihubungi untuk berkomunikasi mengenai pekerjaan. Mengatur batasan lebih awal akan memperjelas ekspektasi rekan kerja terhadap kamu.


Kurangi membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Membandingkan pencapaian kamu dengan dengan orang lain dapat membuat kamu merasa tidak puas secara terus-menerus. Hal ini dapat mendorong kamu untuk bekerja terlalu keras hingga melantarkan kondisi kesehatan kamu.


Memberi afirmasi positif bagi diri sendiri dapat menjadi alternatif. Dengan mengapresiasi kerja kerasmu, kamu akan merasa puas terhadap pencapaianmu, sehingga kamu tidak terus-menerus memaksakan diri dalam bekerja.


Ditinjau oleh dr. Vito Jonathan


Jika kamu merasa hustle culture telah memberi dampak yang buruk bagi kesehatan fisik dan mental kamu, jangan ragu untuk berkonsultasi atau sekadar membicarakan kondisimu dengan dokter atau psikolog Prixa. Yuk, gunakan fitur telekonsultasi Prixa hanya dengan klik tombol dibawah ini!


Referensi:

Headversity. Diakses pada 2022. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop


Good Housekeeping. Diakses pada 2022. How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It


Orami. Diakses pada 2022. Mengenal Hustle Culture dan Dampak Negatifnya pada Kesehatan Mental


Skill Academy. Diakses pada 2022. Hustle Culture: Yang Salah dari Bangga Bekerja Berlebihan


YoursayId. Diakses pada 2022. Mengenal Hustle Culture dan Tanda-tanda Seseorang Terjerumus di Dalamnya


Medium. Diakses pada 2022. 8 Signs Hustle Culture Is Killing You Slowly


Medical News Today. Diakses pada 2022. Poor work-life balance leads to poor health later in life


WHO. Diakses pada 2022. Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases


Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Chronic stress puts your health at risk


Work Chron. Diakses pada 2022. The Effects of Work & Life Imbalance


MySkillId. Diakses pada 2022. 5 Tips ini Bantu Mengatasi Hustle Culture yang Bikin Burn Out!


 
Curhat dan cari solusi bersama prixa sekarang

0 views0 comments