The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Dispepsia

Dispepsia adalah kumpulan gejala yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut.


Faktor Risiko

Faktor risiko dispepsia antara lain adalah merokok, menggunakan obat-obatan tertentu seperti obat antinyeri, mengonsumsi minuman bersoda, berkafein, dan beralkohol dengan sering, pola makan tidak teratur, sering makan makanan berlemak dan pedas, serta stres.


Gejala dan Tanda

Keluhan yang sering timbul pada dispepsia adalah nyeri perut terutama pada bagian atas, mual, muntah, kembung, dan cepat merasa kenyang.


Penyebab

Dispepsia disebabkan karena adanya peningkatan kadar asam lambung sehingga mengiritasi permukaan lambung. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan dispepsia adalah refluks cairan lambung ke esofagus, luka pada lambung, gangguan pankreas atau saluran empedu, dan kanker lambung. Rasa cemas maupun takut juga dapat menginduksi terjadinya peningkatan kadar asam lambung.


Penanganan Nonfarmakologis

Orang dengan dispepsia dianjurkan makan dalam porsi kecil tetapi sering, misalnya 5 - 6 kali sehari, membatasi konsumsi kafein dan alkohol, menghindari penggunaan obat antinyeri yang berefek pada lambung, mengurangi stres dan cemas, menghindari kebiasaan langsung berbaring setelah makan, dan mengurangi konsumsi makanan berlemak dan pedas.


Penanganan Farmakologis

Pengobatan disepsia bergantung dari penyebab dan gejala yang dikeluhkan. Bila perlu, dapat diberikan obat lambung yaitu antasida, proton pump inhibitor, atau antagonis reseptor H2 untuk mengurangi gejala mual. Obat antinyeri yang aman untuk lambung seperti parasetamol dapat diberikan. Antidepresan dapat dipertimbangkan pada kasus-kasus yang dicurigai dicetuskan oleh emosi, dan dapat diberikan antibiotik apabila penyebab dispepsia adalah infeksi bakteri.


Pencegahan

Pasien dispepsia dianjurkan untuk berhenti merokok, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, mengurangi konsumsi makanan berlemak, makanan pedas, dan makanan olahan, memiliki pola makan yang teratur, dan mencegah stres.


Prognosis

Prognosis dispepsia bergantung pada penyebab dan penanganan yang dilakukan. Apabila penanganan dilakukan secara cepat dan tepat, maka prognosis umumnya baik. Dispepsia umumnya dianggap sebagai penyakit yang ringan sehingga tidak diperiksakan ke dokter. Meski demikian, pasien harus dapat berhati-hati apabila gejala yang dikeluhkan semakin memburuk, sebab jika penyakit ini tidak ditangani dengan tepat, maka dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius.


Rekomendasi Pemeriksaan Lab

Pemeriksaan penunjang yang disarankan untuk dispepsia adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan fungsi hati (AST/ALT), pemeriksaan elektrolit, pemeriksaan napas urea (urea breath test), pemeriksaan tinja, endoskopi, ultrasonografi, dan CT scan.


Referensi

1. Evaluation and Management of Dyspepsia - American Family Physician [Internet]. [cited 2019 Nov 17]. Available from: https://www.aafp.org/afp/1999/1015/p1773.html