The Plaza Office Tower, 20th Floor #F3

Jl MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350 Indonesia

©2019 prixa.ai

Asma Bronkial

Asma bronkial merupakan kondisi sesak yang disebabkan oleh penyempitan saluran nafas akibat oleh alergi, aktivitas berat, ataupun proses lain yang memicu peradangan.


Faktor Risiko

Faktor risiko asma adalah riwayat alergi baik pada penderita maupun sanak keluarga. Kondisi lingkungan yang berdebu dapat meningkatkan risiko munculnya gejala asma.


Gejala dan Tanda

Gejala asma berupa sesak yang disertai nafas berbunyi (mengi), yang dirasakan terutama pada malam dan/atau pagi hari. Gejala dirasakan setelah adanya kontak dengan pemicu, misalnya debu atau makanan.


Penyebab

Asma disebabkan oleh reaksi alergi terhadap tungau debu rumah, debu, dan sebagainya. Beberapa aktivitas juga dapat mencetuskan pernapasan cepat, seperti tertawa, menangis, hingga olahraga berat.


Penanganan Nonfarmakologis

Gejala asma dapat diredakan dengan pemberian uap (nebulisasi), yang bertujuan melembabkan saluran napas dan membantu membersihkan saluran napas dari dahak.


Penanganan Farmakologis

Obat-obatan yang bersifat melebarkan saluran napas (bronkodilator; agonis beta ataupun antagonis muskarinik) dapat diberikan. Kortikosteroid dapat diresepkan untuk mengontrol proses peradangan sehingga dapat mengurangi frekuensi serangan.


Pencegahan

Kenali dan hindari bahan-bahan yang mencetuskan asma, seperti debu maupun asap rokok. Menjaga kestabilan emosi dapat membantu mengurangi episode asma, dengan mengurangi stres dan tidak tertawa atau menangis berlebihan. Sediakan selalu bronkodilator hirup, dan ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsi obat-obatan asma sehingga dapat mencegah kekambuhan.


Prognosis

Prognosis asma baik selama gejala ditangani secara cepat dan tepat.


Rekomendasi Pemeriksaan Lab

Beberapa pilihan pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menentukan pencetus asma dan memantau kapasitas paru, seperti:

· Kadar eosinophil

· Kadar IgE serum

· Analisis gas darah (AGD)

· Periostin

· Rontgen dada

· High-resolution CT (HRCT) dada

· EKG

· MRI dada

· Allergy skin test

· Spirometri

· Uji bronkoprovokasi

· Peak expiratory flow (PEF)

· Impulse oscillometry (IOS)

· Exhaled nitric oxide analysis

· CT-scan sinus

· Pemantauan pH 24 jam





Referensi

1. Global strategy for asthma management and prevention. GINA.2014. (Global Initiatives for Asthma, 2011).

2. Global strategy for asthma management and prevention. GINA.2006. (Global Initiatives for Asthma, 2006).

3. Perhimpunan dokter paru Indonesia. Asma. Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2004. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2004)