Search

3 Tipe Perfeksionisme yang Perlu Kamu Kenali

Prixa.ai - 17 Mei 2022

Ditulis oleh Zalfa Imani Trijatna

Tipe perfeksionisme yang perlu diketahui

Prixa, Jakarta - Kamu pasti sudah sering mendengar atau melihat istilah “perfeksionis,” baik secara langsung atau di media sosial atau media massa. Teman kamu, anggota keluarga, atau bahkan kamu sendiri mungkin mengidentifikasi sebagai seorang perfeksionis. Meski sudah cukup kenal dengan perfeksionisme, kamu mungkin tidak tahu kalau ternyata perfeksionisme memiliki 3 tipe berbeda. Yuk, kenali lebih lanjut!


Dilansir dari Verywell Mind, perfeksionisme adalah sebuah kondisi yang membuat seseorang (perfeksionis) terus berusaha untuk mencari kesempurnaan. Untuk mencapainya, seorang perfeksionis biasanya akan terpaku pada ketidaksempurnaan, mencoba memiliki kendali akan situasi tertentu, bekerja keras, dan bersikap kritis terhadap diri sendiri atau orang-orang di sekitarnya.


Kata “sempurna” memang memiliki konotasi yang positif. Akan tetapi, perfeksionisme tidak selalu memiliki efek yang baik, terutama dalam segi psikologis. Dikutip dari Harvard Business Review, dengan motivasi yang lebih tinggi, seorang perfeksionis biasanya berusaha sangat keras untuk menghasilkan pekerjaan yang sempurna. Tak jarang, mereka juga menetapkan standar yang sangat tinggi dan tidak fleksibel untuk dirinya atau orang lain. Selain itu, harga diri seorang perfeksionis juga biasanya akan tergantung pada kesempurnaan pencapaian mereka. Ketika gagal mencapai target tersebut, mereka akan beranggapan bahwa pekerjaannya gagal total. Akibatnya, perfeksionisme sering dikaitkan dengan tingkat stres, kelelahan, dan kecemasan yang tinggi.


3 Tipe Perfeksionisme

Setiap perfeksionis mengejar hal yang sama, yaitu kesempurnaan. Akan tetapi, kesempurnaan yang mereka cari tidak selamanya berorientasi pada hal yang sama. Perfeksionisme dapat dibedakan menjadi 3 tipe berikut.


Perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri

Orang-orang dengan perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri atau self-oriented perfectionism memiliki ekspektasi terhadap dirinya sendiri untuk menjadi sempurna. Menurut Emily Simonian, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi dan kepala pembelajaran di Thriveworks, Washington, D.C. yang berspesialisasi dalam bidang harga diri, depresi, dan kecemasan, seorang perfeksionis yang berorientasi pada diri sendiri umumnya terlalu keras dalam menaruh ekspektasi bagi dirinya. Tingginya ekspektasi ini seringkali menjadi beban dan membuat pencapaian mereka jauh dari harapan, sehingga mereka sering mengalami frustasi dan kewalahan.


Rasa frustasi dan kewalahan ini tentunya akan berdampak pada kesehatan, terutama kesehatan mental kamu. Jika kamu merasa kalau kamu adalah seorang perfeksionis yang berorientasi pada diri kamu sendiri, kamu dapat mencoba beberapa cara untuk mencegah kondisi tersebut berdampak negatif bagi keseharian kamu. Simonian menyarankan orang-orang dengan perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri untuk mengambil waktu untuk istirahat saat mengalami kewalahan. Kamu juga dapat mencoba untuk lebih memperhatikan diri sendiri dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan sosial, dan rekreasi. Kamu juga sebaiknya selalu ingat untuk memberi apresiasi bagi dirimu sendiri.


Perfeksionisme yang berorientasi pada orang lain

Dilansir dari Psychology Today, orang-orang dengan perfeksionisme yang berorientasi pada orang lain (other-oriented perfectionism), seperti namanya, adalah saat seseorang menaruh standar dan harapan yang tinggi pada orang-orang di sekitarnya untuk bersikap tertentu. Jika yang dilihat tidak sesuai, seorang perfeksionis yang berorientasi pada orang lain akan menunjukkan sikap kecewa, menghakimi, atau bahkan marah. Terkadang, konflik juga dapat muncul di lingkungan sekitarnya akibat perfeksionisme tipe ini.


Kamu tentunya tidak mau perfeksionisme kamu memicu konflik dengan orang-orang di sekitarmu. Untuk mencegahnya, Simonian menyarankan agar kamu mencoba untuk lebih berempati dan memahami orang lain. Hubunganmu dengan orang lain juga dapat terjaga jika kamu berfokus pada hal-hal positif yang kamu dapatkan dari lingkungan sekitar dibandingkan dengan terus-menerus menaruh banyak harapan dari orang lain.


Perfeksionisme yang ditentukan secara sosial

Dikutip dari Huffington Post, jenis perfeksionisme yang juga dikenal sebagai socially prescribed perfectionism ini membuat seseorang terobsesi dengan pikiran orang lain terhadap dirinya dan perasaan takut ditolak. Seorang perfeksionis yang ditentukan secara sosial percaya kalau orang lain memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya untuk bertindak dan berpenampilan tertentu. Terkadang peduli terhadap pendapat orang lain tidak apa-apa selama masih dalam batas tertentu. Akan tetapi, seorang perfeksionis secara sosial menanggapi hal ini secara ekstrem. Akibatnya, mereka akan berusaha untuk tampil sesempurna mungkin saat berada di lingkungan sosial.


Terlalu memikirkan tentang pendapat orang lain tentunya dapat berefek negatif. Oleh sebab itu, kamu sebaiknya fokus pada kekuatan yang kamu miliki, seperti hal-hal positif tentang dirimu dan pencapaian yang telah kamu raih. Hal ini akan membantu kamu meningkatkan rasa percaya diri.


Ditinjau oleh Psikolog Klinis Prixa Yulius Steven


Kalau kamu adalah seorang perfeksionis dan sering menghadapi masalah akibat ekspektasi yang kamu miliki, kamu dapat menyampaikan yang kamu alami dengan psikolog Prixa. Hanya dengan menggunakan fitur telekonsultasi di Prixa, kamu dapat dengan mudah cari solusi untuk atasi masalahmu. Yuk klik tombol di bawah ini!


Referensi:

Huffpost. Diakses pada 2022. There Are 3 Types Of Perfectionism. Which Category Are You?


Akurat. Diakses pada 2022. Ada 3 Jenis Perfeksionisme, Kamu yang Mana?


Psychology Today. Diakses pada 2022. 3 Types of Perfectionism to Watch Out for


Harvard Business Review. Diakses pada 2022. The Pros and Cons of Perfectionism, According to Research


verywellMind. Diakses pada 2022. 10 Signs You May Be a Perfectionist

 
Curhat dan cari solusi bersama prixa sekarang

0 views0 comments

Recent Posts

See All